aku lelah.

aku ingin tidur, aku terlalu lelah biarkan aku terlelap untuk sementara waktu

aku lelah menyimpan rindu, aku lelah menahan perasaan, aku lelah menunggu temu yang tak jua datang

biarkan aku terlelap untuk beberapa saat lagi

karena aku lelah akan kenyataan bahwa kau tak bisa ku raih dan mungkin hanya dalam lelap, aku bisa bersamamu, mengenggam tanganmu, menghapus sepimu, berbagi cerita dan tawa di bawah teduhnya malam,

biarkan aku terlelap sedikit lagi saja, beristirahat sejenak

agar aku bisa lebih kuat menjalani kenyataan, agar aku bisa lebih kuat bertahan melawan rindu yang selalu datang, agar aku tak cepat rapuh melawan sepi, dan agar aku dapat menunggu temu meskipun ku tau akan menghabiskan waktu yang lama

aku lelah.

Advertisements

rindu itu keras kepala

betapa bodohnya aku, sering melewatkanmu begitu saja hingga hanya rindu yang bisa kudapati

senyumanmu selalu terbenam di kepalaku menemani dalam setiap kopi yang ku seruput

kau juga alasan dibalik setiap lagu rindu yang kuputar berulang-ulang kali

derai tawamu yang mengiringiku menuju lelap di malam sunyi, memenuhi mimpi-mimpiku

sosokmu menjadi karakter paling favorit dalam novel yg kukarang sendiri di setiap lamunanku

berjumpa denganmu menjadi saat yang selalu kunanti-nantikan

meskipun dalam pertemuan kita tidak banyak kata yang terlontar, tapi selalu kucoba untuk mencuri kesempatan memandang indah binar matamu

aaa rindu itu keras kepala.

Bandung.

tahukah kau apa yang selalu ada di benakku saat akan beranjak ke Bandung?
bahwa aku menganggap semua tentang Bandung adalah kau

suasana kota,
tiap-tiap sudut jalan,
langit sore,
dan bahkan bintang-bintang di temaram malam kota,
semuanya tentang kau

tiap kali aku ke Bandung,
aku merasa ada sesuatu di dasar pemikiran bahwa kita akan bersua nantinya

kembali berjalan, dan menyelesaikan impian yang sudah pernah kita rencanakan jauh di bawah langit mendung bulan desember hari itu

aku selalu mengharapkan pertemuan itu…
namun kau tahu, ada hal lain yang juga selalu menggangguku ketika mengingat-ingat tentang Bandung,

setiap kali ku injakkan kaki di Bandung,
kota ini selalu menghalangi pertemuan yang selama ini menjadi imajiku

dimana aku selalu kehilangan arah untuk menyusuri jalan menuju dirimu,
dan aku merasa terlampau lelah untuk itu

sampai akhirnya aku memutuskan
untuk menganggap bahwa Bandung adalah sebuah tempat paling menyedihkan untuk menyediakan sebuah temu antara kita

lalu kuucapkan salam terakir pada kau dan kota ini.
sampai jumpa lagi bandung,
kota pelipur lara yang tidak pernah benar-benar melipurkan lara.

Bandung, 26 Agustus 2017.

gray.

Apakah kau tahu? aku mendefinisikan dirimu sebagai abu-abu

warna yang kuartikan sebagai suatu kemuraman

dia tidak gelap seperti hitam, juga tidak terang seperti putih

dia ada diantara keduanya, gelap dan terang, yang kuartikan sebagai “muram”

itulah kau, kau terlalu abu-abu, aku tak bisa menerka ke dalam hatimu

aku sulit mengartikan pikiranmu, perasaanmu, warnamu…

dan kau tahu, itu juga mempengaruhi jalan pikirku

tiap kali aku coba untuk mempercikan suatu yg lebih berwarna,

itu tidak berarti, karena kau membuatnya buram kembali menjadi abu-abu

kau tiba-tiba datang, lalu tiba-tiba menghilang, abu-abu…

tapi apakah kau juga tahu? abu-abu adalah salah satu warna yang paling aku suka

kabut berwarna abu-abu, dan aku suka kabut

dan kau… kau juga abu-abu…

dan aku masih  mencoba untuk menyukai

warna abu-abu yang kau punya itu…

 

Epic Holiday!

REMEMBER TO GO OUT AND HAVE FUN!

1439029798935wpid-1439029686689.jpgwpid-1439029735071.jpgwpid-1439029602259.jpgwpid-1439029744122.jpgwpid-1439039912906.jpgwpid-1438949360573.jpg

Tidak banyak yang berubah, setiap berjumpa selalu bernostalgi tentang cerita dan hal-hal lama. Itulah yang membuat setiap pertemuan kita selalu berkesan. Bolehlah kita menjadi tua, hidup di kota yang berbeda, jarang bertemu. Tetapi jangan menjadi dewasa, tetaplah seperti ini! Tetaplah menjadi orang yang sama, tetap menjadi orang yang menertawakan cerita lama yang sama, and keep your circle small! 8 years and still counting. We’ll meet again on our next trip! Amolongo erero (kur)…

Jogja, Agustus 2015.

fin.

kita terlampau lama hidup di dunia paralel, hingga kita akhirnya lupa jalan, dan tersesat di dunia nyata, lalu tenggelam dalam kisah dongeng

dan beginilah… di sinilah akhir yg kau inginkan, kisah dongeng yg gagal kita tuntaskan.. maka akan ku tutup lembaran lama berisi dongeng yg telah usang ini..

ku tak kan lagi mencari mu di luar sana karna aku tahu kau akhirnya menemukan dunia yg selama ini kau impikan, dan aku harus menemukan dunia ku juga, dunia yg lebih nyata tanpa kisah tuanputeri di dalamnya…
kita memang harus begini kan? tak ada yg perlu disesali..

ku tutup buku biru, dan tinta hitam tlah ku tanggalkan.
ku lupakan hembasan rambutmu, dan ku hapus siluet dirimu.
ku tinggalkan kisah usang kita, dan melepaskan mu bersama garis datar di wajah mu itu.

fin.